13466462_1778530749097835_7152968322173957565_n

Sudah lama Saya tidak menulis. Kurang lebih sepekan. Ternyata kangen juga. Beberapa ide tulisan bertumpuk di Kepala. Bersyukur bisa menulis kembali. Semoga bisa kembali menulis setiap hari.

*****

Tulisan kali ini sebenarnya sudah direncanakan sejak beberapa hari yang lalu. Namun karena ini menyangkut masalah bisnis seseorang, Saya memilih untuk menundanya, hingga Saya mendapatkan sudut pandang yang baik dalam pembahasannya.

Tepatnya 3 pekan yang lalu, salah satu member MelekFinansial.co menegur Saya lewat platform grup FB khusus member. Dia menanyakan, mengapa emailnya tidak dibalas. Saya pun akhirnya mencari email yang bersangkutan di inbox.

Luar biasa. Sebuah deretan curhat yang sangat panjang terpampang di badan email. Melihat kompleksitas permasalahannya, Saya akhirnya memberikan nomor whatsApp Saya. Maka berlanjutlah konseling online bisnis via WA.

Kondisinya kronis. Dengan sales sekitar 70 sd 80 juta per bulan, beliau harus menanggung cicilan KPR senilai 25 juta per bulan. Hasil penjualan tergerusm bahkan nilai CoGS yang harusnya kembali ke modal kerja pun terpakai.

Saya pun memberi kesempatan kepada beliau untuk menemui Saya. Hati saya tergerak untuk memberikan sesi konseling khusus untuknya.

Kami pun bertemu. Seorang anak muda 26 tahun yang penuh semangat dan “sedikit kebingungan” itu duduk didepan Saya. Saya pun memulai sesi ini dengan mendengarkan paparannya terlebih dahulu.

Beliau memiliki bengkel yang sudah memiliki pelanggan tetap sejak 2010. Sales nya pun konstan di angka 70 sd 80 juta. Berjalannya bisnis bengkel ini dalam kurun waktu lebih dari 3 tahun menunjukkan performa value yang baik. Saya langsung bisa menebak bahwa saat ini sudah terjadi antrian pelanggan. Dan dibenarkan olehnya. Sosok muda ini memang mencintai dunia otomotif, beliau tak segan untuk turun langsung membantu para mekanik.

Saya pun penasaran, cicilan KPR 25 juta yang ia ceritakan sebenarnya mencicil ke property yang mana? Dia pun lalu bercerita…

“Jadi gini kang, bengkel yang sekarang ada sih itu sudah milik sendiri. Sertifikatnya juga gak saya agunkan kemana-mana. Masih sama Saya.

Nah, di tahun 2013, ada yang nawarin tempat di karawaci, 143 meter persegi. Saya beli tanahnya dan property diatasnya pake KPR. 25 juta per bulan cicilannya. Karena memang bisa terbayar dengan bengkel pertama. Dan rencananya, yang dikarawaci ini mau dijadikan bengkel ke dua. Jadi cashflow bisa tumbuh.

Ternyata pas saya renov tempat, dananya sendat, casflow dari bengkel pertama sibuk nyicil KPR, sementara untuk bangun bengkel, butuh pendanaan besar juga.

Akhirnya asset di karawaci jadi kios. Saya sewain 20 juta per tahun. Gak jadi bikin bengkel. Tapi 25 juta per bulannya jalan terus. Gimana solusinya ya?”

Saya tidak butuh waktu yang lama untuk mendapat jawabannya. Jawabannya jelas : jual asset karawaci, tutup semua hutang KPR, dan fokus besarkan bengkel pertama yang ada di TangSel.

Sontak wajah beliau pun berubah, dan sanggahan pun mulai keluar.

“Aku pernah nyoba jual kang, tapi gak laku”

Saya langsung tembak “ente jualnya pasti kemahalan bro, kalo dijual dengan harga likuidasi insyaAllah terjual”

Beliau pun mengakui, “iya kang, aku kasih penawaran 1,6 kemarin. Kalo bank appraise sih cuma 1,4 M. KPR ku sisa 750an juta”

*****

Kami pun akhirnya bersepakat dalam beberapa hal,

1. Keputusan membeli bengkel kedua adalah keputusan yang tidak diukur.

Niat hati ingin mendapatkan cashflow tambahan, nyatanya, lokasi karawaci hanya disewakan dengan nilai 20 juta per tahun. Sudah kelihatan belum error nya?

Dari rencana net profit sekitar 24 juta sebulan (30% dari 80 jt), penghasilan asset di karawaci terjun payung hingga sekitar 1,7 jt per bulan. Apakah ini waras?

Dan untuk membela keberadaan Asset karawaci, bengkel pertama harus berkorban 25 juta per bulan. Hampir seluruh net profit bengkel pertama, tergerus untuk mencicil lokasi karawaci.

2. Beban cicilan KPR 25 juta sama sekali tidak memperkuat Asset bisnis. Hanya membebani. Dan terjebak harapan capital gain.

Saat saya meminta dia untuk menjual asset karawaci, wajah beliau sedikit datar. Saya langsung nembak…

“Bro, ngerasa kalah ya? Kalo karawaci terjual? Atau ngarep harga naik suatu saat nanti?”

Dia pun mengangguk perlahan. Tapi sejurus kemudian, kami akhirnya menemukan titik kewarasan, bahwa harga naik property itu adalah dimasa depan. Dan dia sedang berbisnis bengkel dengan harapan profit dari operating-cashflow, bukan berharap investing-cashflow.

Kami kemudian sama-sama menemukan titik pemahaman bahwa keputusan mencicil lokasi karawaci ini adalah keputusan emosional. Dia pun akhirnya mengakui dan mantap akan menjual lokasi karawaci

3. Beban cicilan 25 juta membuat beliau tidak bisa konsen pada bengkel pertama.

“Bro, nyicil 25 juta ini, bikin dikau gak bisa fokus ke bisnis utama nya kan?” Tanya saya tajam

“Iya kang, tiap malam gak bisa tidur, saya akhirnya cari-cari kesempatan jualan tanah teman, jualin barang orang, malah sudah gak sempat mikirin bengkel pertama.” Akunya.

Kami kemudian membayangkan jika cicilan ini tidak ada lagi. Beliau bisa berfokus ke bisnis pertamanya. Tidak ada lagi beban jiwa yang menghantui.

4. Menjual asset karawaci akan berdampak baik pada neraca finansial.

Yang mengejutkan adalah selisih dari nilai appraisal dan sisa KPR. Nilai sisa KPR nya adalah 750 juta, dan lokasi karawaci pernah ditawar dengan nilai 1,4M. Berarti beliau akan mendapatkan cashback senilai 600 juta setelah dipotong pajak dan biaya legal lainnya.

Sebagian dari cash back tersebut bahkan cukup untuk menambah inventory bengkel yang kemarin sempat tergerus akibat membayar cicilan KPR. Sebagian dana yang lain dapat digunakan untuk perluasan bengkel agar dapat melayani customer lebih baik.

5. Cash-Cow yang utama dan terbukti menghasilkan adalah bengkel pertama.

Kesadaran yang paling utama adalah tentang peran dari bengkel pertama. Bengkel di TangSel ini sudah terbukti memiliki konsumen tetap dan telah bertahan hampir 6 tahun lamanya. Fokus kami haruslah pada bengkel yang memang produktif.

Sementara calon bengkel kedua yang berada di karawaci, masih misteri. Apakah bengkel tersebut mendapatkan perhatian pasar atau tidak, masih dipertanyakan. Walau secara perhitungan, terdapat perumahan disekitar lokasi, namun apakah pasar akan bergerak untuk melakukan servis motor, kami berdua pun masih bertanya.

Kembali ke bengkel pertama. Jika sang pebisnis berfokus pada bengkel pertama, maka performa sales bengkel bisa digenjot hingga 150 juta per bulan. Dengan 150 juta per bulan, bengkel ini bisa menambah cabang baru dengan uang sendiri. Sangat efektif dan kokoh.

*****

Sengaja Saya menghadirkan tulisan yang cukup panjang, karena Saya sedang bergerak melakukan penyadaran. Penyadaran bahwa sangat banyak pebisnis yang terjebak perasaannya. Banyak pebisnis yang terjebak dalam emosinya. Sehingga langkahnya menjadi irasional dan mempersulit diri sendiri.

Kasus diatas sebenarnya sederhana. Jual asetnya, toh juga disewakan hanya 20 juta per tahun. Berharap capital gain pun bukanlah cara main yang substantif.

Namun langkah menjual asset karawaci tidak pernah diseriusi. Karena banyak yang terjebak dalam perasaan. Perasaan yang sebenarnya tidak beralasan : gengsi, merasa kalah, sayang, atau tidak ingin melepaskan apa yang telah dimiliki. Padahal jelas-jelas sifat kepemilikannya juga ilusi, sertifikatnya toh masih di Bank. Dan jika tidak bisa bayar, bisa saja disita.

Semoga menyadarkan. Semoga menjadi pebisnis yang rasional dan tidak terjebak perasaan.

Rendy Saputra
CEO KeKe Busana

Daftarkan diri Anda kedalam komunitas Zid Club, dapatkan informasi eksklusif dari kami setiap harinya. Di http://bit.ly/daftarzidclub

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
HARGA, KERJA DAN GARIS WAKTU
ILMU ITU REZEKI

Tagged on:                                         

Comments