mockup kecil

Apa kabar temen2, moga sehat selalu, semoga selalu diliputi kebaikan. Hati lurus, perbuatan lurus, hasil mulus. Malam ini saya mau share tentang permasalahan umum perusahaan kecil maupun menengah. Besar juga suka kena. Tapi secara langsung, saya menemukan ini perusahaan2 start up yang tergolong mikro, kecil dan sebagian pada perushaan menengah.

Topik hari ini adalah #TakSekedarTeknik Bisnis. — bismillah — semoga manfaat ya..

Waktu kita bicara hal tentang memajukan bisnis, kita akan terbawa pada bahasan produk, market, SDM.. Biasanya, kalo kita mau membahas tentang bagaimana cara memajukan bisnis, kita bicara hal2 itu. Kita bicara tentang apa yang sekiranya pasar butuhkan, apa produk yang kiranya bisa diterima, bagaimana penjualannya. Hampir semua berfokus bagaimana caranya mendatangkan uang. Tapi jarang yang berani membahas : teknis stlh uang datang. Konsep pengelolaan uang menjadi bahasan yang kurang menarik, karena dianggap urusan personal. Padahal disini kuncinya. Konsep tentang bagaimana memperlakukan uang, menjadi penentu sehat atau tidaknya bisnis. Yang gawatnya, pengelolaan uang ini gak cukup hanya sekedar training teknis. Perlu pembentukan kepribadian. Supaya tweet saya ini mudah difahami, ijinkan saya berbagi dengan metode cerita. Sebelum jadi CEO di KeKe Busana, saya secara profesional keliling2 ke temen2 pengusaha. Panggilan gitu deh..

Saya datang untuk menemukan hal2 yang tidak ditemukan, atau tidak disadari owner. Saya pernah berkunjung ke sebuah warung kuliner yang ramai pengunjung. Saya hitung bareng2, satu hari omsetnya 15 sd 25 juta. Dgn omset sebesar itu, dan profit margin yang besar, harusnya dia sudah bisa melakukan perluasan warung. Atau menambah aset produktif. Namun nyatanya tidak demikian, sang owner harus terlilit hutang. Saya bahkan ke rumahnya, sang ibu bercerita bahwa suaminya meninggal karena lelah ditagih orang. Meninggal dalam hutang. Jalan kaki dari rumahnya, warungnya ramai luar biasa. Satu orang bisa spending 50 ribuan, karena ini di kalimantan. Ramai sekali. Lalu kemana uang itu semua. Saya pun mencoba membantu dengan membedah arus finansialnya. Saya gak bisa cerita banyak. Namun semua bermula dari ketidak mampuan pemilik mengelola uang yang datang. Cashflow puluhan juta setiap malam dijadikan jaminan pengembalian. Sang pemilik berhutang konsumtif sana sini. Ini diperparah oleh anak2 nya yang meminjam sana sini dengan bekal nama bapaknya. Sedih sekali. Hingga saat ini warung ini tetap berdiri, dalam kelelahan putaran cash. Ramainya pengunjung seakan air di padang pasir. Kisah yang lain.. bentar… tarik napas dulu…

Suatu hari saya bertemu dengan pengusaha besar. Banyak anak perusahaannya.  Ini punya, itu punya, awalnya ritel, terus bikin ini itu. Sampe taman wisata. Hebat bingit. Dari luar. Tapi waktu beliau mulai cerita pelan-pelan, beliau mulai terbuka bahwa sebagian besar malah makan duit. Sebagian besar unit bisnisnya malah harus disubsidi tiap bulan. Bisnis utama malah kelelahan membiayai adik2 yang baru lahir.Unit2 bisnis yang gegap gempita sudah terlanju r di publish, ada harga diri yang terkoyak jika harus ditutup. Jadi buka terus. Tekor asal sohor. Jadi filosofi. Ampun deh.

Kisah yang berikutnya, kisah yang biasa dialami oleh kawan2 start up. Beberapa start up bisnis, atau pemula, biasa mengalami fase hujan deras. Laris suatu masa, tapi kemarau setelahnya. Hal ini terjadi karena.. biasanya start up punya produk unik, jadi orang nyoba, habis nyoba, jera. Heheh… Jadi ramenya cuma 3 bulan, omset meledak cuma 6 bulan. Habis itu ya sudah.  Selesai.

Uang hang hadir saat hujan deras ini biasa berubah wujud dengan sangat cepat: jadi gadget, jadi ini itu, yg gk produktif. Para starter lupa nabung, lupa nyiapin cadangan air kala kemarau. Selesai deh. Maka saya akan simpulkan jebakan2 langkah saat uang sudah mulai datang.

Jebakan Pertama, jebakan ilusi cashflow.

Ketika kita sudah menghasilkan sekian uang secara rutin dalam 6 bulan, kita suka berfikir bahwa 6 tahun kemudian akan sama. Hal ini bikin kita tergoda mengiyakan tawaran dana pihak ketiga. Kita memperbesar modal dengan pinjaman. Sebuah besaran modal yang harusnya kita capai 3 tahun lagi, atas alasan keterdesakan pasar, kita percepat. Akhirnya profit tiap bulan, kerja keras ngejar cicilan. Fikiran owner gak lega. Mulai stress.

Bukannya fokus membangun produk, beberapa pemilik yang kena penyakit ini makin rungsing tiap hari. Kasian. Produk keteteran, SDM gak kepegang, owner sibuk mikir ngejar cicilan. Jualan mau dipaksain juga marketnya gak ada. Sebenernya kalo beban cicilan gak terlalu besar, atau malah gak ada. Rotasi profit cukup untuk cost. Tapi ya itu, jebakan ilusi cashflow ini sudah menjerat. Kita menganggap pasar itu ramai terus. Laris terus. Linier.

Jebakan kedua adalah besarnya profit, saking besarnya, beberapa orang jadi norak dot com.

Di buku dua kodi kartika, saya menceritakan bahwa bunda gak gitu suka untung besar2. Saya gak faham awalnya. Tapi skrg saya faham, profit yang sangat2 besar, mudah dicapai, bisa jadi masalah jika landing di tangan yang salah. Profit yang besar kadang menjebak owner untuk konsumtif. Atau pengen buka bisnis yang lain. Padahal sebenarnya, bisnis utamanya perlu modal kerja yang luang. Bisnis utamanya kadang perlu modal lebih baik. Konsep jangan taruh satu telur di keranjang yang sama ditelan mentah2. Bikin ini itu malah nyedot duit.

Dari bahasan2 ini, maka saya berkesimpulan, sebelum belajar teknis bisnis, kita perlu hal lain. Sebelum memulai bisnis, kita perlu membentuk konsep berfikir yang benar tentang uang. Tentang kekayaan. Kita harus selesai di titik ini : mau kaya beneran atau kelihatan kaya. Membentuk diri menjadi pribadi yang siap kelimpahan uang adalah keharusan. Ketimbang norak kemudian. Ilmu menghadirkan uang harus diimbangi dengan ilmu membelanjakan uang. Dan ini tentang personality. Di dalam buku dua kodi kartika, saya paparkan konsep pemilik keke akan uang. Akan kekayaan. Merawat ayam petelur emas lebih bermakna daripada mengumpulkan telur-telur emas. Memberi makan ayam petelur emas agar tetap bertelur, lebih penting daripada telurnya itu sendiri. Maka di dua kodi kartika ini, saya menyebut buku ini panduan cara benar jadi pengusaha.

Moga ocehan saya malam ini manfaat. Thx…

Alhamdulillah

#TakSekedarBisnis

iklan 2 kodi kartik

 

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
Kemeriahan Keke Busana dalam IBF 2015
Keke Brother & Sister, Brand Ambassador “Pemula” Keke

Comments