13245335_1765709520379958_7778232303445215108_n

Salah satu penyakit yang paling sering menjangkiti seorang pebisnis adalah ketakutannya untuk menghadapi laporan keuangan. Celetukannya sangat khas sekali,

“Gak usah dihitung-hitung lah, yang penting terus dagang, bisa bayar ini itu, bisnis bisa jalan, ndak usah njlimet, nanti stress”

Akibatnya, banyak pebisnis yang memilih untuk tidak melihat laporan keuangan secara utuh. Hal paling jauh yang dilihat hanya 2 hal : berapa saldo kas dan berapa rupiah penjualan. Selebihnya, mereka tidak mau tentang angka-angka yang ada di laporan keuangan. Lebih buruk dari itu, bisa saja laporan keuangannua tidak ada.

Saya memahami mengapa hal itu terjadi. Angka-angka diatas laporan keuangan terkadang membuat jantung berdebar. Laporan keuangan dapat menunjukkan dengan jujur bahwa biaya operation tidak setara dengan angka penjualan yang ada. Hal itu terkadang membuat seorang pebisnis frustasi. Mereka sudah keluar banyak uang, namun tetap saja tidak menghasilkan.

Laporan keuangan juga dapat menunjukkan tentang kesehatan sebuah bisnis. Berapa besar komposisi hutang pada neraca bisnis, apakah bisnis tergerakkan dengan modal sendiri atau modal orang lain. Wajar, jika laporan keuangan menjadi hal yang menyeramkan. Lebih baik tidak perlu dilihat.

*****

Saat Anda berjalan kaki, Anda tidak perlu speedometer. Saat Anda naik sepeda, Anda tidak perlu fuelmeter. Tetapi ketika Anda naik Sepeda motor, mendadak Anda harus akrab dengan panel dashboard yang ada. Anda harus mengontrol kecepatan, Anda pun harus terus memantau level bahan bakar. Apakah sekiranya cukup atau tidak.

Begitu pun bisnis, ketika bisnis masih tergolong kecil, mungkin Anda dapat melakukan terbang buta, walaupun hal ini jelas mengundang celaka di awal bisnis Anda, namun banyak yang selamat melaluinya. Wajar, skala bisnisnya masih jalan kaki dan naik sepeda.

Namun ketika bisnis sudah membesar, Anda tidak bisa menghindari laporan keuangan. Ketika supplier mulai percaya untuk menitipkan barangnya, maka Anda harus benar-benar mencatat barang supplier yang ada di bisnis Anda. Ketika sahabat Anda mulai memilih keterlibatan bagi hasil ke bisnis Anda, maka Anda harus benar-benar detail mencatat profit yang dihasilkan.

Pada bisnis yang telah mencapai skala besar, sebuah kebijakan haruslah diambil berdasarkan data di lapangan, bukan karena intuisi atau perasaan ghaib owner. Keputusan belanja iklan atau tidak belanja iklan hanya dapat dilihat dari seberapa besar gross profit yang dapat tercetak darinya. Keputusan menjual ruko atau tidak menjual ruko hanya dapat dilihat dari seberapa efektifkah ruko tersebut menghasilkan sales.

Sekali lagi, hadapialah Angka sahabatku. Jika Anda memang ingin menjalani bisnis, hadapilah Angka.

Rendy Saputra
CEO KeKe Group
Mentor www.MelekFinansial.co

Zid Notes :

Terima Kasih atas like, comment dan share Anda. Respon Anda insyaAllah menginspirasi kami untuk terus bergerak.

1. Ikuti tulisan Kang Rendy setiap hari via FB dengan bergabung di Group Zid Club. Klik http://bit.ly/zidclub | GRATIS

2. Dapatkan tulisan Kang Rendy melalui WhatsApp dengan mendaftarkan diri via WA ke 081288407094. Ketika nama – profesi – domisili. | GRATIS

3. Silakan akses seluruh tulisan yang pernah Kang Rendy tulis di http://keke.co.id/category/ceowords | GRATIS

4. Tersedia Group WhatsApp premium yang langsung dikelola oleh Kang Rendy. Info lebih lanjut hubungi 081288407094. | Berbayar

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
RELEVANSI AADC 2 DAN MY STUPID BOSS
Modul Digital Melek Finansial Mengapa dan Apa

Tagged on:                                             

Comments