Orang Baik Sangat Banyak

CEO Words

Sabtu, 9 Mei 2015

 

Hari ini adalah hari spesial bagi Saya. Karena hari ini adalah hari dimana saya bertugas menemani owner KeKe menuju Bandung dalam rangka menghadiri pernikahan salah satu tim manajemen kami.

Menjadi “supir” untuk kemudian dapat berdiskusi sepanjang jalan adalah kenikmatan tersendiri. Di momen ini, Saya biasanya mengkonfirmasi ide-ide gila Saya, untuk kemudian Ayah dan Bunda rapikan untuk menjadi ide yang realistis dan dapat teraplikasi. Di momen ini juga, Ayah dan Bunda biasanya berbagi tentang nilai-nilai hidup yang mereka yakini, dan itu membentuk diri Saya yang baru.

***

Ada dua pernikahan yang akan kami hadiri. Yang pertama adalah pernikahan mantan karyawan kami, walau hanya bekerja beberapa bulan di KeKe, Bunda sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Pernikahan kedua adalah pernikahan General Manager kami, Kang Geris, yang menikah di hari ahadnya. Kedua pernikahan ini berlangsung di tempat yang berdekatan. Maka Bunda dan Ayah memilih bermalam di komplek Hotel Trans Studio Mall.

Ayah dan Bunda memilih hotel Ibis yang lebih “hemat” dibanding Hotel Trans. Pilihan ini pun menjadi pemelajaran tersendiri bagi diri Saya. Disaat keduanya sangat mampu tinggal di Trans Luxury Hotel, mereka lebih memilih hotel “budget” seperti Ibis. Hehehe…

Si Harrier pun harus mendekam di Bogor. Ayah dan Bunda lebih nyaman menggunakan Freed yang lebih sederhana. Bagus lah, Saya sebagai driver sangat sangat tertekan secara batiniah jika harus membawa si Harrier.

***

Posisi hotel yang berdekatan dengan Trans Studio Mall, membuat kami memilih Strait Kitchen sebagai tempat makan siang. Setelah makan Siang selesai, kami check in di Ibis, dan tiba-tiba saja kami kaget : Hanphone Ayah Hilang.

Saya menemani Ayah ke mobil untuk mengecek keberadaan gadget Ayah yang lenyap. Sambil jalan, Ayah mencoba menghubungi gadget yang hilang dengan gadget kedua Ayah. Hehehe.. Ayah memang gadget nya banyak. Hihihi…

Satu dua kali, kami gagal menghubungi, hingga dipercobaan yang ketiga, seseorang mengangkat telepon diujung sana ….

“Tenang Pak, HP nya ada di kami, Saya tunggu di Strait Kitchen, Saya manajemen Strait Kitchen, telah mengamankan gadget bapak”

Alhasil, gadget kembali ke Ayah. Ayah menyediakan uang sebagai imbalan namun pihak security Strait Kitchen menolaknya. Sebuah corporate value yang luar biasa. Salute.

***

Sambil menunggu resepsi di sabtu malam, Saya memilih untuk “membunuh waktu” dengan menonton XXI. Semua film hampir “buruk”, hingga Saya bertemu dengan sebuah judul film yang diangkat dari kisah nyata: Paradise Lost. Bercerita tentang akhir perjalanan Pablo Escobar, sang mafia kokain Kolombia.

Tapi kali ini, Saya gak cerita tentang filmnya, maybe next.. di CEO Words berikutnya. Gak papa ya.. biar ada terus materinya. Hehehe..

***

Film selesai. Saya keluar theatre dengan hati yang masih terguncang. Film ini berhasil menghadirkan suasana emosional yang tak biasa. Ngeri ngeri sedap.

Sejurus kemudian, saya kemudian mencari spot “menunggu”. Dan Saya pun mengeluarkan Samsung Note yang notabene “Asset Kantor”. Dan Saya terkejut jilid 2 : Stylus Samsung Note Saya lenyap.

Sadaranya Saya akan kehilangan ini, bertepatan dengan posisi berdiri Saya yang menghadap outlet Samsung. Sang outlet seakan berbicara : “udah.. beli aja sini… ” — tidaaaaaaaaakkkkk

Ini bukan masalah stylusnya, tapi, keteledoran ini pasti akan berbuntut panjang pada track record Saya sebagai direksi. Kebayang deh… hihihihi.. bakal rame…

***

Seingat Saya, saya tidak mengeluarkan stylus sama sekali. Kemungkinan besar jatuh di theatre, karena disanalah samsung note ini di charge di row A.

FYI: setiap theatre XXI, punya colokon di row paling atas tengah. Layak dicoba. Hahahah…

***

Saya pun kembali ke theatre. Mbak-mbak penjaga pintu membantu Saya mencari, dan tidak ada. Saya pun menghubungi security untuk mencari sang stylus yang berharga ini. Belum lama Saya berbincang dengan pihak security, seorang petugas kebersihan mendekati Saya. Seseorang yang belakangan Saya ketahui bernama kang Agus ini bertanya ke Saya :

“Nyari ini ya…” Sambil menunjukkan stylus.

Dan dapat. Dorr… lega.. nuhun kang Agus.

***

 

Lessons :

Hari ini, kejadian serupa terjadi dua kali, Allah rasanya ingin mengajarkan kepada Saya bahwa orang baik sangatlah banyak. Hati Saya makin optimis dengan Indonesia. Kita adalah negeri yang penuh dengan orang baik. Gadget BB Ayah bernilai jutaan, sementara stylus Saya bernilai 325 ribu. Barusan Saya tanya ke counter Samsung. Fiuuhh….

Banyaknya orang baik di Indonesia, adalah modal bagi bangsa ini untuk bergerak cepat dan maju. Jika kebaikan negeri ini dikelola dengan baik, dan diarahkan kepada arah pembangunan yang jelas, maka tidaklah mustahil jika kita akan menjadi negara maju di dunia.

Sudah saatnya kita tidak banyak bertengkar dan berkelahi. Sudah saatnya, status-status facebook dipenuhi dengan berita-berita positif dan membangun optimisme kita sebagai bangsa. Positif, bergerak lalu berdampak. TOP

 

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
Ledakan Entrepreneur dan Tangga yang Putus
Quartal akhir 2012, seorang kenalan tiba-tiba mengirimkan pesan lewat BBm kepada Saya..

Comments