Mengapa disaat yang lain “SLOW”, KeKe “GROW”

 

CEO Words

Jumat, 8 Mei 2015

 

Data kondisi ekonomi RI di Quartal 1 tahun ini, menunjukkan perlambatan. Hampir semua sektor mengalami penurunan. Sebuah berita di detik com menunjukan penurunan penjualan toyota sebesar 25% dari Q1 di tahun 2014. Sebuah parameter sederhana untuk mengukur geliat ekonomi : penjualan mobil.

Data dari APINDO menunjukan hal yang sama. Sektor ritel terpukul hingga 20%. Penjualan ritel menurun hampir sekitar 20% sd 30%. Lewat status Facebook Rihan Handaulah, penurunan konsumsi pasar ini juga ditengarai sebagai faktor utama perlambatan eknomi Indonesia.

***

Kondisi data Ekonomi Makro ini, membuat kami manajemen KeKe ikut sedikit “Parno” dan kemudian mulai sering bertanya keadaan penyerapan produk di pasar. Model bisnis KeKe yang memilih mitra Distributor dan Agen sebagai kanal distribusi, membuat kami yang dipusat, tidak sedemikian serta merta mengetahui kondisi riil di lapangan.

Alhamdulillah, tepat di hari kemarin, kami bertemu dengan sebagian mitra kami. Obrolan pun dilakukan, dan Saya pun menanyakan perihal keadaan lapangan. Dengan yakin dan optimis, para mitra menjawab…

“Alhamdulillah barang jalan kang, bagus-bagus aja kok, lancar”

Alhamdulillah.

***

Kami memuji Allah dengan sebaik-baik pujian. Data Quartal 1 tahun 2015 mengalami pertumbuhan ketimbang quartal 1 tahun 2014.

Beberapa analisa pun kami lakukan, dan beberapa hal ini, mungkin dapat menjadi inspirasi bagi Anda pelaku usaha. Beberapa hal berikut, mungkin bisa menjadi resep melawan ekonomi yang melamban.

Berikut beberapa temuan kami, mengapa disaat yang lain “slow” kami “grow”

1. Jaringan Penjualan yang Solid

Sengaja Saya tidak menempatkan produk sebagai alasan pertama, karena bisa saja, ada beberapa merk baju yang secara produk mendekati kualitas kami. Namun ini lebih pada jaringan penjualan yang solid.

KeKe Busana memakai pola “long tail distribution” dengan sistem proteksi area. Dari pusat, barang mengalir ke distributor. Dari distributor, barang kemudian mengalir ke puluhan hingga ratusan Agen. Dan dari Agen, ada yang kemudian langsung dijual ke end user, namun tidak sedikit Agen yang membangun jaringan Diler atau pengecer.

Berbeda dengan brand yang “bermazhab” modern store di mall mall, KeKe Busana yang bermazhab UKM, lebih memilih kanal diatribusi tradisional melalui Agen dan Diler. Kami memiliki hasrat dan tekad untuk mensejahterakan pelaku ekonomi mikro.

Ratusan Agen dan ribuan diler ini, menjadikan produk KeKe bergerak aktif dan dinamis di pasar-pasar potensial. Secara massive, para diler menawarkan produk ke “crowd” yang sudah sangat khas : “ibu-ibu kompleks, pengajian dan sekolah-sekolah IT” . Beberapa diler bahkan hanya membuka display produk di ruang tamu rumahnya, namun omsetnya sangat mengejutkan.

Kesolidan gerak jaringan penjualan ini, banyak disebabkan oleh komitmen Manajemen KeKe sejak tahun 2006. Bunda Tika selaku owner KeKe busana, dengan sebegitu kuat, menahan diri untuk tidak menjual produk KeKe langsung ke konsumen. Kami sama sekali tidak punya toko, dan berkomitmen menjaga keberlangsungan bisnis para Agen dan Diler

Komitmen proteksi juga sangat dipegang. Selama distributor berprestasi di wilayah demarkasi mereka, KeKe pusat tidak akan menggeser hak penjualan kepada siapapun. Hal ini membuat jaringan tenang dan happy.

Hasil penulusuran Saya, ternyata komitmen ini terkadang sama sekali tidak dimiliki oleh Brand-brand besar sekalipun. Tak tega menyebut “brand” nya, beberapa merk fashion besar, begitu tega membuka toko sendiri didekat toko Agen berada. “Jeruk makan jeruk”

Awalnya mereka membangun jaringan untuk mempermudah alur distribusi. Namun lambat laun, ketika bisnis membesar, mereka memilih untuk berjualan langsung, mereka memilih untuk menyerang jaringannya sendiri? Mereka berhasrat untuk mendapatkan profit lebih besar. Dan inilah yang membuat jaringannya “bete”.

Pada merk lain, kami juga menemukan keanehan, ketika brand tersebut membangun agen dengan diskon 35%, namun tiba-tiba, produsen di pusat melakukan obral pabrik dengan diskon 70%. Alamak… makin aneh saja dunia persilatan.

2. Cara bertahan kami adalah “menyerang”

Alhamdulillah, tepat januari 2014, KeKe melakukan transformasi dengan membangun “Business Development Operation” yang berkantor terpisah dengan Pabrik. SDM muda pemelajar pun kami rekrut untuk menjadi barisan BizDev Operation.

Kurang lebih selama 1 tahun 4 bulan ini, kami melakukan operasi marketing brand yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kami memutuskan untuk agresif menyerang.

Menjadi sponsor utama di Islamic Book Fair, Pesta Wirausaha TDA, Hafizh Quran Trans 7, dan konser CJR yang cetar membahana… kami lakukan dengan giat dan tanpa ragu.

Gerak marketing ini membuka pasar yang memang masih besar. “Room to grow” KeKe masih begitu besar. Dan gerak operasi marketing ini berhasil membuka ruang market yang semula tidur.

Distributor kami pun mengakui hal yang sama, banyak Agen baru yang bergabung, dan penjualan mereka relatif baik. Alhamdulillah.

Kami mengibaratkan kasus ini seperti resultan tekanan. Ketika kondisi ekonomi menekan 100 Psi, kami melakukan tekanan ke pasar sebesar 1000 psi… jadi masih selisih positif 900 Psi.

Maka “menyerang” lebih aktif, dalam kondisi yang melambat ini adalah solusi. Bukan malah ketakutan dan berdiam. Kami memutuskan untuk bergerak terus. Optimis.

Menurut kami, perlambatan ekonomi ini berkah buat kami. Karena jika kami dapat tumbuh dalam perlambatan ekonomi makro, maka ketika ekonomi normal, kami akan meroket cepat

3. KeKe hampir menjadi kebutuhan Primer.. lho.. kok bisa?

Kondisi ekonomi yang melambat, membuat semua orang mengencangkan ikat pinggang. Semua berhemat dan mencoba mencukupkan anggaran belanja. Kondisi ini, secara sederhana mendesak orang untuk membunuh kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Yang dulunya ada nonton ke bioskop, sekarang dikurangi. Yang dulunya sering jajan di indomaret, sekarang dikurangi. Yang dulunya ada jalan-jalan di akhir pekan, sekarang dikurangi. Mengerikan.

Alhamdulillah again.. tidak dengan KeKe. Seperti ilmu dari Pak Subiakto, KeKe sudah masuk menjadi produk ritual : “Baju Ngaji.. Baju Lebaran”

Bagi keluarga yang cenderung relijius, mengajikan putra putrinya ke TPQ di sore hari adalah budaya yang tak lekang zaman. Dan baju putra putri mereka menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan, karena ini tentang “gengsi” nya orang tua.. hehehe…

Disamping ritual TPQ, membelikan kedua putra putri nya baju lebaran merupakan ritual yang tidak bisa ditawar. Kecerdasan Bunda Tika dalam merancang bisnis model, membuat KeKe sudah sangat fit dengan baju lebaran. Tidak ada negosiasi… baju baru menjadi sesuatu yang akan terus diperjuangkan oleh kedua orang tua.

4. Beruntung

Inilah alasan keempat yang ingin kami sampaikan. Mungkin ada banyak yang memakai strategi yang juga kami terapkan. Bahkan ada yang lebih baik, namun kami mengakui, kami hanya beruntung.

Tanpa mencari kesana kemari, admin akun @HadistKu bergabung dengan tim KeKe Busana. Tanpa mencari kesana kemari, kami memiliki tim grafis yang mungkin hanya ada satu di dunia ini. Mengesankan. Tanpa melakukan tebar info rekrutmen, beberapa SDM berkualitas menawarkan diri untuk bergabung dan memperkuat barisan. Thx ya Rabb.

Semua ini, semuanya, hanyalah kasih Sayang Allah kepada kami. Keberuntungan disana-sini, kemudahan disana-sini dan kebaikan disana-sini. Semuanya dari Allah. Dan inilah yang kami sadari tanpa basa basi : kami hanya beruntung.

Ketika beruntung diungkap di awal Alquran, kata “muttaqien” mendahuluinya. Maka, Marilah bersama-sama menuju taqwa.

Thx udah baca sampe sini. Panjang yah. Nuhun.

 

Rendy Saputra

 

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
KeKe Official Wardrobe Hafizh Quran Trans7
Kekayaan Ghoib Perusahaan

Comments