CEO words
07 Agustus 2015

Rasanya sejak tahun 2008, gerakan entrepreneurship mulai banyak digaungkan di Indonesia. Atau mungkin lebih lama dari itu. Mungkin Saja karena saya termasuk bentukan ledakan entrepreneur di tahun itu.

Isu kesejahteraan dan kurangnya pengusaha di negeri ini, membuat setiap orang bergerak untuk menjadi entrepreneur. Dalam beberapa momen pun, isu anti jadi karyawan pun dihembuskan, mulai dari isu gaji pasti tapi pasti gak cukup, hingga terorema bos dan bawahan. Terus didengungkan hingga meledakan jumlah entrepreneur start up di Indonesia.

Kejadian ini tentu positif. UKM bertumbuh dimana-mana. Sektor informal bergerak luar biasa, karena UKM menyerap tenaga kerja yang awalnya menjadi beban negara. Munculnya pengusaha baru yang berbentuk UKM ini, mendorong hadirnya arus transaksi yang kemudian menjadi penggerak ekonomi, positif bukan?

Namun kemudian, ada hal yang dilupakan. Usaha mencetak entrepreneur ini tidak diimbangi dengan usaha mencetak profesional yang siap berdarah-darah didalamnya.

Ijinkan Saya menjelaskannya…

Misalkan Ibu Yanti memutuskan untuk mambangun toko baju kecil-kecilan. Ibu Yanti memutuskan menjual baju muslim anak yang keren, merknya KeKe. (Ngiklan gak papa ya)

Karena produk KeKe laku dan terus menerus dicari pembeli, akhirnya Ibu Yanti mampu menggaet profit cukup banyak. Setiap tahun Bu Yanti memutuskan menambah outlet. Hingga tahun demi tahun, akhirnya Bu Yanti memiliki 12 outlet dalam 4 area mall yang berbeda.

Bu Yanti mulai kebingungan mengatur stock, data stock yang dahulu bisa dicatat di excel, mulai kocar-kacir. Bu Yanti pun kemudian kesulitan mengontrol toko, setiap hari Bu yanti harus berkeliling ke 4 area berbeda dengan titik kontrol 12 outlet.

Bu Yanti lalu mulai mengeluh tentang SPG yang tidak bisa diatur, kepala Toko yang tidak becus, karyawan yang mudah berpindah karena digaji lebih baik. Bu Yanti pun pusing. Dan memutuskan mengurangi tokonya.

“Mentok”

******

tangga yang putusInilah yang Saya sebut dengan tangga yang putus. Entrepreneur Indonesia, susah naik kelas karena kekurangan SDM yang handal. SDM handal ada, tapi jumlah mereka sedikit. Sebagian besar mereka tidak berkenan untuk bekerja di perusahaan skala UKM. Sebagian besar mereka memilih untuk bekerja di perusahaan yang sudah mapan. Dan inilah proses alami yang terjadi : SDM handal akan memilih perusahaan besar. Lalu nasib UKM bagaimana?

Sahabat bloger strategi manajemen telah membahas hal ini : UKM hanya dapat pekerja KW3. Pekerja ORI bergerak ke perusahaan yang mapan. Ini benar-benar tangga yang putus bagi UKM.

Bagaimana pun, seorang Pengusaha UKM yang bertumbuh akan menemukan titik dimana perusahaannya harus dijalankan oleh tim profesional. Ketika UKM ingin naik kelas, SDM nya pun harus memiliki kompetensi untuk menaikan kelas si UKM.

Hari ini saya sampai berat untuk komentar dan bicara. Dari status facebook yang berseliweran, Saya menemukan bahwa banyak UKM yang tidak bisa membedakan antara marketing dan selling. Tidak bisa memaknai Brand. Tidak mampu membaca financial statement. Mereka kebingungan menulis profit yang tidak sama dengan cash yang ada. Benar-benar tidak mampu membaca financial statement.

*****

Tangga yang putus ini harus segera disadari. Ketika negeri ini tidak mampu mencetak profesional yang mau terjun ke UKM, UKM-UKM Indonesia akan terus berada pada level yang mengenaskan.

Mari maknai ilustrasi sederhana yang Saya sampaikan..

Jika sebuah UKM hanya mampu menggaji seorang General Manager di 15 juta, pertanyaannya, bagaimana jika sosok yang sama bisa digaji oleh perusahaan besar dengan gaji 18 juta di posisi Staff. Kira-kira, apa yang akan dia pilih?

Jika penghasilan GOJEK yang katanya 13 juta sebulam bisa membuat seorang IT Manager Resign.. rasanya.. UKM Indonesia menghadapi tangga yang putus.

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
Belajar Bisnis, Kepada Siapakah Selayaknya?
Program Berbagi Baju Lebaran

Tagged on:                 

Comments