13615164_1787134114904165_198683227962926240_n

Sebagai seorang CEO di perusahaan berkembang, Saya selalu menantang diri untuk selalu bekerja lebih baik dari hari ke hari. Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh CEO diseluruh dunia ini adalah bagaimana membangun organisasi bisnis yang produktif. Dan itulah yang menyelimuti fikiran Saya dari hari ke hari.

Setiap CEO berfikir keras tentang bagaimana caranya agar setiap orang didalam organisasi mampu memberikan kontribusi terbaiknya, mampu bekerja sama dan sejajar dengan arah perusahaan. Setiap CEO juga berfikir keras bagaimana caranya mendayagunakan aset perusahaan secara efektif, agar tercapai nilai scoreboard yang diinginkan. Kearah mana anggaran harus dibelanjakan? Seberapa besar angka produksi yang ditargetkan? Semua itu terkait dengan kerja aset didalam bisnis.

Pendalaman demi pendalaman tersebut membawa Saya menjelajah berbagai literatur baik teks maupun video. Setiap hari. Hampir setiap malam. Saya melakukan pembelajaran mandiri dalam membentuk kapasitas diri.

*****

Dalam sesi kuliah Youtube Saya tadi malam, Saya mendengarkan paparan dari Guru Manajemen kelas dunia : Stephen Covey. Beliau adalah Guru Manajemen perusahaan TOP 1000 di Amerika. Ada ratusan perusahaan yang telah beliau sentuh. Ada ribuan MBA yang telah beliau didik untuk menjadi pemimpin bisnis yang luar biasa.

Sebuah kalimat mengguncang hati dan fikiran Saya,

“In business, you lead people, and manage things”

Didalam bisnis, Anda memimpin manusia, dan mengatur benda. Mesin pabrik Anda bisa dijalankan kapan saja Anda mau, namun tidak begitu dengan manusia. Lampu kantor dapat terus menyala sepanjang waktu kerja, namun tidak dengan manusia.

Manusia memiliki pilihan bebas untuk mengikuti atau tidak mengikuti. Manusia memiliki ruang emosi yang berbeda dengan benda mati. Dan disanalah seorang Stephen Covey membedakan pendekatan terhadap manusia dan benda.

Pimpin manusia dan menejlah benda.

Lalu apa pondasi dari sebuah kepemimpinan seorang pemimpin bisnis. Ternyata jawabannya adalah TRUST atau saling percaya. Dan ternyata bukan komunikasi. Mister Covey kemudian memaparkan hasil penelitian bahwa penyebab gagalnya organisasi paling pertama adalah TRUST dan urutan kedua disusul oleh COMMUNICATION.

Sangat masuk akal, Mister Covey memaparkan bahwa tanpa ada kepercayaan, seseorang tidak akan bergerak mengikuti Anda walaupun Anda jelas dan terampil dalam menyampaikan ide-ide Anda. Semua akan sia-sia.

*****

Potongan kalimat di video ini lalu menantang fikiran Saya untuk berfikir keras. Kepercayaan seperti apa yang dibutuhkan oleh seorang tim kepada CEO nya?

Malam tadi, Saya lalu mencatat beberapa pemikiran yang tetiba menyeruak dalam fikiran Saya,

1. Apakah CEO pantas Saya ikuti?

Ruang pertama dari kepercayaan adalah tentang personal seorang CEO. Ikatan hubungan antara tim adalah manusia dengan manusia. Terkadang, Saya menjadi naif untuk kemudian memodelkan hubungan kerja menjadi manusia dengan organisasi. Bagaimana pun, manusia berhubungan dengan sesosok CEO yang juga wujudnya adalah manusia.

Maka, secara alamiah, seorang manusia pasti membutuhkan alasan, untuk apa Saya mengikuti “dia”. Disinilah integritas dan kualitas diri seorang CEO ditantang. Apakah kepemimpinan yang dibangun oleh CEO adalah semata kepemimpinan karena jabatan atau kepemimpinan yang memang dibangun dengan pembuktian kerja dan karya?

Di titik ini, penting bagi setiap pemimpin organisasi bisnis seperti Saya dan Anda, untuk terus merenungi diri : sudah pantaskah saya diikuti? Apakah Saya pantas dipercaya oleh tim didalam organisasi Saya? Hari ini, sejauh mana tim percaya kepada diri Saya?

2. Apakah CEO benar-benar ingin membangun organisasi?

Poin kedua yang menggelayut didalam pemikiran Saya adalah tentang intensi seorang pemimpin bisnis.

Dalam sebuah organisasi, CEO adalah posisi puncak dari manajemen. Pada perusahaan kecil menengah, biasanya posisi CEO diduduki oleh seorang owner dan pada kelas menengah besar, biasanya owner menyerahkan kerja proses bisnis kepada seorang CEO. Maka baik tidaknya sebuah performa organisasi, mau tidak mau mengarah kepada hidung sang CEO.

Kondisi ini terkadang menyebabkan seorang CEO terjebak pada hasrat pribadi. Alih-alih berfikir tentang membesarkan organisasi, seorang CEO terkadang terjebak untuk membesarkan dirinya sendiri. Lalu bagaimana mungkin tim berkenan bergerak untuk membangun prestasi individu seseorang?

Saya meyakini bahwa energi hati itu menjalar dan terasa. Ketika seorang CEO terjebak dalam misi-misi pribadi, maka seluruh tim dapat merasakan hal itu dan kemudian kepercayaan akan terkoyak. Akibatnya performa menurun, energi melemah dan angka pada scoreboard pun merah.

Maka penting bagi CEO untuk mengevaluasi diri dan hatinya. Untuk apa Saya melakukan ini semua? Apakah untuk diri Saya semata? Ataukah untuk organisasi? Mana hasrat yang lebih ber-api didalam diri Saya, melihat organisasi besar atau melihat diri ini besar?

3. Apakah CEO mampu menumbuhkan diri saya?

Hal ketiga yang saya raba di hati tim adalah tentang bagaimana seorang CEO mampu menumbuhkan tim nya.

Pertumbuhan adalah fitrah dari setiap orang. Setiap orang tentu mendambakan kehidupan yang bertumbuh, baik dari segi keterampilan, mental dan bahkan kesejahteraan hidup. Dan dorongan ini tentu juga tersemai didalam hati setiap tim. Setiap anggota didalam sebuah organisasi tentu mengejar pertumbuhan.

Maka, setiap anggota tim pasti bertanya kepada dirinya, apakah organisasi bisnis tempat Saya bekerja hari ini mampu menumbuhkan Saya? Apakah CEO yang ada benar-benar dapat menumbuhkan Saya? Apakah perusahaan ini dapat Saya harapkan?

Ketika harapan pertumbuhan ini tidak terjawab, maka seorang anggota tim akan kehilangan kepercayaan. Dan disanalah retak-retak kinerja mulai hadir. Organisasi menjadi lemah, karena diisi oleh orang-orang yang hanya sekedar bertahan hidup.

Berbeda apabila pertanyaan akan harapan tersebut dapat dijawab dengan pasti. Organisasi akan diisi oleh manusia-manusia yang penuh energi. Mengapa? Karena ada harapan dan kepercayaan. Kedua hal itu menjadi energi gerak dalam organisasi.

*****

Tulisan ini Saya hadirkan untuk diri Saya sendiri. Semoga Allah mengaruniakan Saya taufik dan rusydah untuk menjadi CEO yang benar.

Tulisan ini juga Saya hadirkan untuk sahabat-sahabat CEO yang sedang memimpin organisasi bisnis dimanapun Anda berada. Sudahkah anda benar-benar memimpin manusia?

Rendy Saputra
CEO KeKe Busana
Http://teraskeke.com

*****

Dapatkan tulisan dan konten eksklusif dari zid Club dengan mendaftarkan diri Anda ke http://bit.ly/daftarzidclub

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
STRATEGI BARU MD ENTERTAINMENT
TIGA SELIMUT DOA

Tagged on:                                             

Comments