12986952_1749368972014013_6643812316007893245_n

InsyaAllah, Saya kembali mendapatkan kesempatan berbagi di Pesta Wirausaha Nasional Tangan di Atas. Pesta Wirausaha Nasional TDA akan dilaksanakan pada tanggal 3, 4 dan 5 mei. Beberapa pembicara lainnya pun hadir dalam event ini. Saya sarankan Anda ikut.

Mengisi PW TDA Nasional untuk kedua kalinya, Saya kemudian tertantang untuk mencari topik yang tepat. Tepat untuk audience, tepat untuk hati saya, dan juga tepat melengkapi topik-topik yang ada. Melihat struktur pembicara yang ada, Saya kemudian terbersit untuk mengangkat topik yang melawan arus : kekuatan figur dalam bisnis.

*****

Poster digital quote Saya sebagai pembicara TDA sudah di upload. Saya menyatakan bahwa bisnis yang hebat adalah bisnis yang memiliki pemimpin yang pantas dibela. Kemudian salah satu comment pun menyambar dengan tegas,

“Mas Rendy, bukankah bisnis yang baik itu harus digerakkan dengan visi, bukan dengan figur? Mengapa membahas mundur ke belakang? Kok lagi-lagi bicara figur?”

Begitu kira-kira komen beliau. Dan itulah yang menyebabkan Saya menulis tulisan berikut ini.

*****

Pada perusahaan besar, Saya harus mengakui bahwa kepemilikan terdistribusi kepada stakeholders. Pemimpin perusahaan adalah profesional yang digaji dan diberi tanggung jawab untuk menjalankan perusahaan. di titik direksi ini pun, kekuatan tersebar ke beberapa direktur. Mereka biasa disebut dengan Board of Director (Dewan Direksi).

Pada perusahaan yang telah matang, nilai-nilai seorang owner relatif juga sudah tersebar hampir ke semua lapis SDM. Ketika sang owner pergi, kekuatan visi dan semangat sang owner pun masih melekat di organisasi.

Sayangnya, kedua hal diatas tidak terjadi pada perusahaan level UKM atau bahkan yang berkembang sekalipun. Di beberapa perusahaan yang sudah ratusan M pun, kekuatan figuritas masih menjadi faktor dominan. Mengapa ini terjadi?

optimistic-small-business-owner-restaurant

1. Pemilik bisnis menjadi representasi dari organisasi.

Seperti yang telah Saya utarakan, sebuah perusahaan besar biasanya dimiliki oleh beberapa orang atau bahkan publik. Andai pun dimiliki sebuah keluarga, perusahaan yang besar telah mengalami peresepan nilai-nilai dari sang owner, akinat interaksi yang cukup lama.

Ketika besaran bisnis masih berupa usaha rintisan, atau masih dalam tahap berkembang, maka sosok owner adalah sosok yang menjadi representatif dari organisasi bisnis tersebut. Sikap yang ditunjukkan owner adalah bahasa paling nyata yang dapat dilihat seorang karyawan.

Visi dan misi adalah kalimat yang menempel indah di dinding kantor. Tulisan tersebut masih terus akan menyisakan tanya bagi seorang karyawan : konkretnya seperti apa. Kalimat tersebut bisa saja kabur dan kehilangan makna. Berbeda dengan sikap dan teladan dari seorang owner, sikap dan teladan akan menjadi hal yang sangat nyata. Dapat terasa langsung. Konkret dan menggerakkan.

KeKe Group memiliki satu nilai yang kami pegang bersama : “keukeuh”. Kami punya tingkat kengototan yang berada diatas rata-rata perusahaan lainnya. Tapi bagaimana si “keukeuh” ini harus dilaksanakan oleh seprang karyawan? Bagaimana konkretnya? Disinilah Bunda Tika selaku owner KeKe mencontohkan kepada kami.

Beliau telah mencontohkan bagaimana mempacking baju yang benar. Beliau telah mencontohkan ke tim warehouse temtang bagaimana melakukan tabulasi order yang benar. Beliau telah melalui beberapa tahun tidur diatas tumpukan karung dalam rangka mengontrol lembur produksi. Sebuah nilai keukeuh bukan lagi di tingkat wacana, namun sudah dicontohkan dan dilaksanakan.

Inilah yang ingin saya sampaikan kepada sahabat-sahabat UKM. Visi dan misi sebuah UKM itu terletak pada sikap dan karakter yang memang diteladankan oleh pemiliknya. Jika saat ini Anda adalah seorang owner dari sebuah perusahaan, jagalah sikap Anda, integritas Anda, janji-janji Anda kepada tim, karena disitulah harga diri organisasi ditegakkan. Tempelan-tempelan visi dan misi di dinding tidak akan membentuk karakter tim, teladan baik dari pemiliklah yang membentuk itu.

ready-for-growing-business

2. Membesarnya bisnis, jelas berdampak langsung pada membesarnya kehidupan pemilik.

Harus disadari baik-baik, bahwa jajaran pekerja dapat melihat secara gamblang kehidupan sang pemilik bisnis. Apalagi pada perusahaan kecil menengah, jajaran pekerja dapat dengan mudah menjangkau kehidupan owner.

Ada seorang pemilik bisnis yang dengan rakusnya menggunakan profit bisnis untuk cicilan kredit konsumsinya. Sibuk mencicil KPR, leasing dan beban konsumtif lainnya. Padahal bisnisnya masih membutuhkan investasi mesin, masih membutuhkan ruang modal kerja yang lapang. Staff keuangannya pun sangat menyadari bahwa gaji karayawan pun masih megap-megap.

Hal-hal semacama ini, membuat tim jajaran bekerja bertanya-tanya, dan bahkan menggalau gundah : “apakah bosku pantas untuk dibela? Apakah bosku benar-benar ingin membangun bisnisnya? Dia serius gak sih bisnis? Uang perusahaan habis untuk nyicil yang nggak-nggak… pusing deh”

Pertanyaannya menjadi sangat sederhana, apakah kemudian ketika bisnis sebuah bisnis tersebut membesar, kehidupan karyawannya menjadi membesar juga? Apakah ada semangat tumbuh bersama? Apakah ada niat baik untuk bermitra bersama? Inilah yang harus dijawab oleh seorang pemimpin bisnis, apakah mereka pantas dibesarkan oleh jajaran pekerjanya? Apakah bisnis yang dimilikinya pantas dibesarkan oleh jajaran tim nya? Hanya ownerlah yang dapat menjawab, menjawab dengan aksi nyata.

Rendy Saputra
CEO KeKe Group

Zid Notes :

Terima Kasih atas like, comment dan share Anda. Respon Anda insyaAllah menginspirasi kami untuk terus bergerak.

1. Ikuti tulisan Kang Rendy setiap hari via FB dengan bergabung di Group Zid Club. Klik http://bit.ly/zidclub | GRATIS

2. Dapatkan tulisan Kang Rendy melalui WhatsApp dengan mendaftarkan diri via WA ke 081288407094. Ketika nama – profesi – domisili. | GRATIS

3. Silakan akses seluruh tulisan yang pernah Kang Rendy tulis di http://keke.co.id/category/ceowords | GRATIS

4. Tersedia Group WhatsApp premium yang langsung dikelola oleh Kang Rendy. Info lebih lanjut hubungi 081288407094. | Berbayar

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
Bedah Kasus Bisnis : Dewa Eka Prayoga (DEP) dan Produk Digitalnya
Pendekatan Emosi si McD

Tagged on:                                     

Comments