Kekayaan Ghoib Perusahaan

CEO Words

Selasa, 21 April 2015

 

Mengisi di Great People Training Program Telkomsel pagi ini, membuat Saya harus PP bogor – bandung dalam 1 hari. Alhamdulillah, selasa dini hari saya sampai di bandung, kemudian selasa sore saya sudah bertolak ke bogor. Tak sabar merancang CEO briefing untuk esok hari. Kangen sama KeKe People.

Saya memilih bus untuk perjalanan hari ini, entah kenapa Saya lebih nyaman dengan stabilnya goyangan bus ketimbang goyangan mobil travel. Mual.

Namun, konsekuensi memakai bus rakyat ini tentulah ada. Sang supir harus menunggu muatan penuh, dan itu cukup memakan waktu.

Tak ingin waktu terbuang begitu saja, Saya kangen dengan tweet-tweet mas Yodhia Antariksa. Saya pun stalk ke tweet-tweet lama mas Yodhia yang gak sempat Saya baca. Blog nya pun Saya kunyah habis. Dan benar-benar Saja bikin jantung berdebar.

Mas Yodhia lewat akun twitter @strategi_bisnis, mencuit tentang hal yang memang sedang jadi pusat perhatian Saya beberapa hari terakhir: intangible asset. Asset yang “tak teraba” namun punya dampak luar biasa.

***

Dahulu kita bisa bilang, bahwa perusahaan yang punya banyak uang akan lebih hebat dari yang tidak punya uang. Dan yang besar akan tetap besar dan tak tergoyahkan. Ternyata, hari ini, hal itu tidak berlaku.

Betapa Apple membuat kita terkejut, dengan produk gadgetnya, market Apple bisa tembus di angka 8000T. Angka ini adalah pencapaian terbesar perusahaan sepanjang peradaban kehidupan manusia. Hampir 4 kali APBN.

Apple menghadirkan kreativitas, kehebatan desain, teknologi, dan market mau bayar mahal. Ini semua tak lepas dari kreativitas dan otak tim yang bekerja didalamnya. Budaya kerja dinamis dan progresif jadi modal utama. Dan inilah intangible asset yang dimaksud.

Ketika Steve Jobs ditanya, apa yang dia tinggalkan untuk Apple, dia berkata bahwa dia meninggalkan BEST PEOPLE untuk apple. Warisannya adalah SDM terbaik.

***

Pabrik, uang, mesin, lahan dan perangkat “yang bisa diraba” lainnya, merupakan tangible assets. Sedangkan  kreativitas SDM, budaya kerja, hak paten, ide dan hal tak terjamah lainnya adalah intangible assets.

Studi hari ini menyebutkan, bahwa di tahun 1975, intangible assets hanya berpengaruh 17% dari valuasi sebuah bisnis. Wajar.. karena jaman dulu dimana serba analog, kekuatan uang menjadi penggerak utama.

Namun studi itu menyebutkan, di tahun 2015, intangible asset berpengaruh 84% dari valuasi sebuah bisnis. Sangat besar. Mengapa bisa demikian?

Saya mulai menyadari, bahwa hari ini, uang yang banyak tak kan bisa beli kreativitas. Alasan seseorang untuk bergabung dalam perusahaan tertentu memiliki banyak variable, bukan hanya soal uang.

Dalam postingan saya kemarin, Saya juga mencontohkan, bagaimana KeKe People bergerak lincah bersinergi dengan Telkomsel. Sebuah kerja yang tidak berbicara anggaran sama sekali. Benar intangible.

Sony pernah gilas JVC, namun hari ini Sony digilas Samsung. Lee Kun Hee berhasil membangun intangible asset di dalam perusahaannya, dengan berkeliling mengadakan training ke seluruh karyawan Samsung. Berbagi mimpi, berbagi nilai, meluruskan langkah, menggambar masa depan, mengubah budaya buruk dan itulah INTANGIBLE ASSET.

***

Renungan hari ini membawa saya pada sebuah kesimpulan sederhana, bahwa bisnis tak hanya bersandar pada kekuatan zahir saja, tetapi bisnis juga memiliki dimensi lain.. yaitu kekayaan ghoib : intengible asset.

Seberapa pun “sederhananya” bisnis Anda hari ini, janganlah khawatir.. selama Anda memiliki kekayaan Ghoib yang Besar, maka besarnya bisnis Anda akan menjadi kenyataan.

Salam..

2015-04-21-18-30-23

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
Mengapa disaat yang lain "SLOW", KeKe "GROW"
Ika Kartika dan Cara Benar Jadi Pengusaha

Comments