13729137_1792646847686225_2737779250528880536_n

Sejak januari 2014, Saya secara resmi memimpin KeKe Busana. Sejak saat itu, Saya dan tim dituntut untuk berfikir bagaimana caranya agar KeKe bertumbuh. Tentu pertumbuhan itu diukur dengan pertumbuhan penjualan dan terbentuknya profit.

Berbicara tentang dunia bisnis busana, tingkat keberkanalan sebuah brand menjadi tolak ukur awal pertumbuhan yang sangat sederhana. Bagaimana orang mau membeli jika orang tidak tahu? Maka, kerja “memperkenalkan” Brand ini kemudian menjadi tantangan Saya dan tim KeKe hingga hari ini. Kami memang sudah terkenal baik secara nasional, namun kami menganggap bahwa kadar keberkenalan kami hari ini belumlah cukup.

Dunia bisnis mengenal fasilitas iklan. Pola komunikasi massal ini membuat sebuah brand dapat dikenal dengan cepat oleh publik. Makin banyak Anda beriklan, maka makin tepat media iklan yang Anda pakai. Anda akan makin mudah dikenal. Dan itu semua tentang seberapa banyak uang yang Anda punya.

Saya dan tim kembali merenungi hal ini. Jika banyaknya uang yang dimiliki menjadi parameter tenaga untuk tumbuh, maka bisnis besar akan terus besar dan bisnis kecil akan terus kecil. Bagi Saya hal itu adalah ilusi. Banyaknya equity bukanlah penentu melesat atau tidaknya sebuah bisnis.

Yang membuat sebuah bisnis besar bukanlah dari equity yang mereka punya, tetapi bagaimana mereka menggunakan uang yang ada untuk berperang di pasar.

Dari semangat itu, Saya selalu mengulang-ngulang sebuah kaidah didalam setiap temu manajamen,

“Coba kita mikir, bagaimana dengan uang yang ada, fasilitas yang ada, jaringan yang ada, kekuatan yang kita miliki saat ini, bagaimana dengan itu semua, kita bisa menggunakannya untuk pertumbuhan bisnis kita?”

“Bagaimana dengan anggaran 1 rupiah, kita bisa menghadirkan value kerja 1000 rupiah. Bagaimana membangun program yang efisien, tapi berdampak, tajam, fokus, dan bertenaga.”

Itulah kaidah yang selalu kami ulang-ulang di KeKe Busana. Kami memilih menimang-nimang equity kami untuk tidak serta merta dibakar begitu saja didalam kerja-kerja marketing.

*****

Saya memang menjadi CEO KeKe Busana sejak Januari 2014. Tetapi kebersamaan Saya dengan KeKe sudah dimulai sejak awal 2012. Sehingga, sebelum Saya full menjadi CEO di KeKe Busana, Saya telah mengenal KeKe sebagai bisnis selama dua tahun.

Dalam perjalanan itu, Saya melihat potensi cerita yang luar biasa. Bunda Tika dan Ayah Farid adalah sepasang suami istri yang memiliki cerita dan falsafah hidup yang unik dalam membangun KeKe. Mereka telah membuktikan kekuatan kerja jangka panjang sejak 1998 hingga hari ini. Dan itulah yang Saya capture dan ingin Saya hadirkan sebagai cerita.

“Bund, hayuk kita bangun personal brand seorang Ika Kartika. Bunda tuh pantas lho didenger, banyak yang mau belajar dari Bunda. Pengusaha-pengusaha muda yang setahun dua tahun tumbuh aja PD bicara diatas panggung, masak Bunda gak mau” Rayu Saya…

Dengan cepat Bunda menjawab,
“Ane gak suka tampil-tampil, gak ane banget, kalo nyuruh ane bikin baju, hayuk aja, kalo tampil tampil.. ihhh.. ente aja dah.. Bayi Gurita.. kan memang orang panggung tuh”

Begitulah jawaban yang selalu terlontar dari Bunda Tika. Beberapa pihak yang mengundang beliau pun akhirnya diwakili oleh Saya.

Perlahan, Saya berhasil memaksa Bunda Tika, tetapi hanya lewat jalur media. Wartawan boleh melakukan wawancara. Silakan jurnalis datang ke rumah dan mengadakan wawancara. TV pun demikian. Ukuran Bunda adalah efektifitas.

“Ya kalo media gak papa, kan sekali-sekali. Bukan panggung keliling-keliling”

Perlahan misi Saya tercapai, Saya yang merasa terdidik keras sedari awal 2012 pun sangat ingin masyarakat dapat mendapatkan semangat bisnis dan hidup dari seorang Ika Kartika.

*****

Di akhir 2014, secara pribadi Saya meminta ijin untuk menuliskan pelajaran yang Saya dapat dari Bunda Tika. Dengan judul “Dua Kodi Kartika”. Saya kemudian menuliskan semangat Bunda Tika dalam memulai bisnis walau hanya dimulai dari 40 potong baju.

Buku Dua Kodi Kartika akhirnya terbit via Gramedia. Buku yang berisi 40 kisah kebersamaan Saya dengan KeKe dan pelajaran bisnisnya, akhirnya hadir ke publik.

Hal ini sebenarnya didorong dari rasa gemas yang luar biasa. Banyak ilmu yang sebenarnya Bunda miliki, tetapi beliau tidak membaginya dalam ruang publik, beliau hanya mendidikkannya ke kami KeKe People, dan Saya merasa merasa ini adalah amanah ilmu yang harus disampaikan.

Saya kira, hadirnya Buku ini sudah cukup sebagai penyalur semangat brand KeKe Busana. Ternyata, ketika Buku ini meluncur, lagi-lagi publik bertanya,

“Penasaran banget sama Bunda Tika, yang mana sih Rend orangnya? Bikin seminar Bunda donk..”

Para pembaca kemudian bertanya tentang bagaimana Bunda Tika membagi waktu antara bisnis dan keluarga. Pembaca bertanya, bagaimana Bunda Tika memimpin bisnis.

Kembali ke masalah di awal, Bunda Tika bukanlah orang yang kemudian senang hadir di event-event publik. Di KeKe, seakan sudah jadi tugas abadi, ketika ada undangan publik, pastilah Saya yang harus hadir mewakili perusahaan. Nasib.

Saya dan tim tidak menyerah. Membangun cerita lewat media sudah kami lakukan. Membuat Buku sudah kami lakukan. Nah, tinggal bagaimana menghadirkan sosok Bunda lebih dekat ke publik, tanpa harus Bunda berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Maka kami bangunlah film Dokumenter Dua Kodi Kartika.

*****

Proyek Film Dokumenter yang berdurasi 60 menit ini bukan tanpa halangan. Saya perlu meyakinkan berulang kali tentang proyek ini. Bahkan Bunda secara tegas memberi batas jelas,

“Kalo bikin filmnya pake budget marketing, nggak banget lah, masak ane memfilmkan diri sendiri. Siapa ane? Kalo mau, jadiin proyek bisnis beneran, bikin PH serius, Bayi Gurita tanggung jawab balikin modal buat film, profit nggak?”

Ya ampun… dari sekedar wacana marketing, projek ini akhirnya harus kami jalankan dengan konsep yang benar-benar bisnis.

Saya jujur pusing 7 keliling. Dengan budget yang ada, Saya tidak mungkin meniti jalan membakar uang di jalan iklan. Dan ini adalah kesempatan Saya dan tim untuk membangun kedekatan emosi antara market dengan Bunda Tika sebagai tuh dari Brand KeKe.

Tawaran itu akhirnya Saya ambil. Lahirlah Inspira Pictures. Secara legalitas, perusahaan ini berdiri sendiri dan menjadi bagian dari KeKe Group. Dengan niat dan tekad bisnis dan inspirasi, akhirnya proyek pembuatan film ini bergulir kencang.

Saat Saya menulis artikel ini, Saya sedang berada diketinggian di ketinggian 39 ribu kaki lebih diatas permukaan laut. Dalam perjalanan Kuala Lumpur – Melbourne. Beberapa scene di Kota Melbourne akan menjadi bagian dari film ini.

*****

Saya sebagai executive producer akhirnya memlilih sutradara muda documentarian Mas Ali Eunoia untuk menggarap film ini. Beberapa kali riset dilakukan, dan proses pra produksi akhirnya menyepakati untuk mengangkat ruh cinta seorang Ika Kartika dalam membangun KeKe Busana.

Satu hal kunci yang mendasari lahirnya KeKe Busana adalah krisis mkneter yang menerpa di tahun 1998. Krisis Moneter tersebut akhirnya menyadarkan Ika Kartika dan Fahrul Farid untuk bergerak lebih. Mereka berdua cinta dengan anak-anaknya, dan definisi cinta mereka adalah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Termasuk pendidikan yang terbaik.

“Cara Saya mencintai anak-anak mungkin rada unik. Saya dulu pengen banget kuliah di luar negeri, tapi gak dijinin Bapak Saya. Sekarang, Saya harus berjuang, gimana caranya anak-anak Saya semuanya bisa kuliah di tempat terbaik, mendapatkan kehidupan yang terbaik, mendapatkan pendidikan terbaik. Dan itu gak mungkin kalo Saya gak bisnis.”

Semangat itu akhirnya mendorong seorang Ika Kartika untuk memutar 40 potong baju dagangannya hingga mencapai ratusan ribu potong per tahun. Itulah yang kami ingin angkat dalam film dokumenter Dua Kodi Kartika.

*****

Pengambilan gambar film Dua Kodi Kartika benar-benar penuh kejutan. Mas Ali Eunoia tetiba mendapatkan banyak kejutan selama melakukan pengambilan gambar ke berbagai narasumber yang ada. Gambar-gambar pun akhirnya hadir secara alami, bahkan beberapa adegan ditake tanpa sepengetahuan Bunda dan sosok-sosok yang ditake.

Kami di Inspira Pictures dan anak-anak KeKe pun banyak terkejut dengan hasil gambar yang ada. Hal ini membuat Saya sebagai Exprod mengubah rencana, yang awalnya dokumenter ini hanya diyoutubekan, kami kemudian memilih XXI sebagai tempat pemutaran khusus. Kerjasama dengan XXI pun sudah terjalin. Kami akan melakukan penayangan terbatas di beberapa titik di Indonesia. Tunggu tanggal mainnya ya.

*****

Detik ini, di kursi duduk lesawat Air Asia yang penuh “keterbatasan” ini, hati Saya benar-benar bergembira. Gembira karena Saya tidak menempuh jalan berbelanja iklan seperti CEO-CEO yang lain. Saya bergembira bahwa hari ini, Saya dan kawan-kawan KeKe Group dapat membangun sebuah karya yang kami yakini kebermanfaatannya.

Hari ini Indonesia membutuhkan teladan. Dan Saya memahami ada banyak keluarga di Indonesia yang sedang berjuang memberikan yang terbaik untuk putra putrinya. Kisah keluarga Ika Kartika dan Fahrul Farid adalah kisah yang sangat pantas diteladani. Ada kisah bagaimana kedua suami istri ini memulai bisnisnya, ada kisah bagaimana orang-orang yang menemani awal langkah mereka, ada air mata kesyukuran orang-orang yang kemudian mendapatkan dampak baik dari perjuangan mereka.

Film ini tidak sekedar film. Nama Brand KeKe diambil dari bahasa sunda yang artinya KeuKeuh. Kami ingin membangun ikatan emosi antara customer dan produk. Kami ingin, ketika Anda memakai produk KeKe, besar ke-keukeuh-an jiwa Anda untuk berjuang bangkit dalam kehidupan. Ketika Anda memakaikan produk KeKe ke putra putri Anda, besar cita dan kerja Anda untuk memberikan yang terbaik kepada mereka. Semoga, ketika Anda melihat mereka memakai baju KeKe, kata cinta Anda akan berubah menjadi kata KERJA.

Rendy Saputra
CEO KeKe Busana
Perusahaan penuh cinta

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
TENTANG BAPAK

Tagged on:                                             

Comments