CEO Words
08 Agustus 2015

Ramai diperbincangkan di status yang berseliweran : “apaan sih dia, punya bisnis aja nggak, ngajarin bisnis” atau kadang-kadang lebih dalem lagi : “gak punya bisnis, ngajarin bisnis, ya ngajarin bisnis itu yang dia bisnisin, nggak banget!!”

Di status yang lain, muncul juga status : “payah nih, mentang-mentang usah gede bisnisnya, gak mau bagi-bagi ilmu ke kita-kita”. Bahkan, dalam sebuah diskusi kecil dengan seorang pengusaha ritel, ketika saya tawarkan kepadanya untuk berbagi tentang manajemen toko yang Ia miliki, dia dengan tegas menjawab : “wah, ketahuan donk nanti, rahasia-rahasia bisnis saya”

Inilah dilema pengusaha hari ini. Sebagian mementingkan belajar bisnis kepada yang lebih kaya dan punya bisnis. Sedangkan yang lain kesulitan mencari sesosok pengusaha yang mau mengajarkan ilmu secara detail.

Lalu bagaimanakah sikap yang bijak menyoal ini?

semoga sepotong wacana saya ini bermanfaat.

*****

mau belajar bisnis

Jika yang Anda cari adalah seorang mentor yang dapat membentuk mental dan filosofi Anda, maka, belajar dengan seseorang yang memang riil menjalankan bisnis menjadi pilihan yang tepat.

Karena mereka sudah nyemplung dan berdarah-darah dalam bisnis, biasanya hidup mereka penuh dengan kebijaksanaan. Konsep berfikir mereka juga biasanya mendalam. Dan asas-asas hidup yang mereka anut biasanya membuat kita semangat.

Namun bukan berarti, seseorang yang tak memiliki bisnis tak layak didengar. Kebaikan bisa darimana saja, namun jika tidak memiliki bisnis, dan tak pernah menjalankan, tentulah mereka tak memahami apa yang Anda rasakan.

*****

Terkait masalah yang mendetail dan teknis, bisa saja Anda belajar dengan seorang pengusaha. Namun hati-hati jika bisnis modelnya berbeda.

Ketika Anda jualan baju, Anda akan sulit mendapat pelajaran dari yang pebisnis sawit. Karena keduanya berbeda dalam bisnis model.

Baju punya rentang cash gap mungkin 2-3 bulan, sedangkan lahan sawit, ketika start up butuh waktu mungkin 7-8 tahun, barulah masuk tahap panen maksimal.

Ketika Anda bisnis makanan, anda akan sulit mendapatkan pelajaran teknis kepada seseorang yang bisnis baju. Makanan memiliki batas waktu dalam penyimpanan bahan baku. Daging bisa basi, bahan makanan ada batasnya. Sedangkan bahan kain -relatif- bisa disimpan bulanan bahkan ada yang tahunan.

Terkait cashflow juga berbeda, bisnis baju mungkin memiliki cash gap 2-3 bulan, sedangkan bisnis warung makan memiliki cash gap harian.

Maka, jika Anda ingin belajar hal-hal detail dan teknis dalam bisnis, Anda harus belajar dari pakarnya.

*****

Seorang pakar dalam sub bab bisnis, biasanya mendedikasikan dirinya untuk belajar dan terus mengembangkan fikirannya. Biasanya, hari-hari mereka disibukkan dengan belajar dan mengajar. Mereka mendedikasikan diri dalam mempertajam kepakaran ilmu akan sesuatu.

Dan inilah yang juga dilakukan oleh KeKe Busana.

Ketika bisnis mulai bertumbuh, kami harus belajar tentang branding pada seorang pakar brand yang tidak memiliki bisnis yang bombastis. Secara riil, bisnis beliau adalah konsultan brand, dan kami sebagai perusahaan tetap terbantu.

Untuk manajemen Toko Ritel, kami kemudian lagi-lagi belajar dengan pakar ritel yang mendedikasikan dirinya untuk membantu bisnis toko ritel. Secara formal, bisnis yang dia jalankan adalah konsultan ritel. Dan kami tidak mempermasalahkannya. Walau dia tidak punya toko sama sekali.

*****

Inilah yang ingin saya sampaikan kepada sahabat-sahabat pengusaha. Terutama UKM. Untuk belajar bisnis atau mencari buah pemikiran yang baik bagi bisnis Anda, Anda bisa belajar dari siapa saja, baik yang memang pengusaha seperti Anda, ataupun yang tidak punya usaha.

Ketika Bisnis Anda terus bertumbuh, maka Anda akan menemukan masalah yang lebih rumit. Dan disanalah dibutuhkan peran mereka yang lebih faham, dan memang mendedikasikan hidupnya untuk memahami itu. Dan bisa jadi mereka tidak lebih “kaya” dari Anda.

Dahulu ketika memulai bisnis, Anda tidak perlu memerhatikan kemasan, namun ketika sudah 10.000 pcs per bulan, rasanya Anda perlu nasehat dari pakar kemasan.

Ketika dahulu Anda hanya memiliki 1 toko, mungkin Anda bisa mendekor toko Anda sesuka hati, namun ketika Anda sudah punya 8 toko, rasanya Anda harus berbicara dengan pakar interior dan ritel, agar terjadi standardisasi atas 8 toko Anda.

Ketika transaksi masih minim, Anda hanya perlu 1 buku kas dan kalkulator. Namun ketika Anda berhadapan dengan banyak transaksi hutang piutang, pembelian asset dan banyak pembelian peralatan. Rasanya Anda harus belajar tentang bagaimana membukukan transaksi finansial yang waras.

*****

Semoga artikel ini bermanfaat. Setelah membaca artikel ini, mudah-mudahan kita tidak lagi membatas-batas diri dalam belajar bisnis.

@kangrendy

Ingin belajar bisnis pada pakarnya ? Hadiri Edukasi Nasional Entrepreneur Indonesia, Kamis 20 Agustus 2015 di IPB International Convention Centre.  Edukasi Nasional atau yang kami singkat EdNas, merupakan seminar edukasi bisnis sehari, yang menghadirkan para pakar yang telah lama berkecimpung di bidangnya masing-masing. more info : KLIK DISINI

web 1

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
Bekerja dengan Energi Dalam Diri
Ledakan Entrepreneur dan Tangga yang Putus

Tagged on:                     

Comments