13615228_1785453461738897_1381672606534012315_n

Satu waktu Saya posting tentang film dokumentar ?#?DuaKodiKartika?. Saya pun menghadirkan caption text yang tegas : “Daleman KeKe akan kami buka”

Tiba-tiba ada yang komentar bahwa dia lebih senang belajar bisnis dari usaha yang memang dirintis dari awal, bukan hasil warisan keluarga.

Hmmm..

Ada beberapa hal yang Saya tangkap dari komentar tersebut,

1. Salah Sangka
Iya, salah sangka, Saya adalah profesional di KeKe group, walau sudah dianggap anak oleh pemilik KeKe, namun Saya tetap memposisikan diri sebagai direksi yang harus bekerja secara profesional.
Saya bukanlah pemilik keke.

2. Pandangan miring kepada generasi kedua.
Dalam komen ini, terdapat nada miring kepada generasi kedua yang meneruskan bisnis orang tua. Generasi kedua dianggap generasi yang tinggal ongkang-ongkang kaki dan mendapatkan penghasilan berlimpah.

Apa benar demikian?

Tulisan Saya kali ini akan membahas tentang tantangan dan hebatnya menjadi generasi kedua.

*****

Saya akan menyampaikan tiga hal utama yang menjadi tantangan Generasi Kedua.

1. Bayang-bayang nama besar Generasi Pertama.

Menjadi generasi kedua bukan tanpa tantangan. Menjadi anak dari seorang pemilik bisnis yang besar dan kemudian mendapatkan titah untuk melanjutkannya bukanlah perkara gampang.

Sebenarnya, jika para generasi kedua ini disuruh memilih, mereka akan lebih nyaman memulai bisnis baru sedari awal dengan equity warisan orang tua mereka. Toh equtiy tersebut adalah hak mereka sebagai anak biologis.

Namun, atas jiwa bakti mereka kepada orang tua, mereka memilih untuk meneruskan bisnis orang tua mereka. Disinilah terjadi bayang-bayang nama besar generasi pertama. Baik SDM didalam organisasi maupun masyarakat, akan terus membanding-bandingkan mereka terhadap generasi pertama.

Sehingga, jika ada sosok generasi kedua yang memutuskan meneruskan bisnis orang tuanya. Saya angkat topi dan angkat dua jempol tinggi-tinggi.

2. Warisan sistem dan Budaya

Menjadi generasi kedua berarti siap dengan warisan sistem dan budaya yang dibangun oleh generasi pertama. Ada budaya yang fit dengan mereka, namun tidak sedikit budaya yang membuat mereka bingung dan terganjal.

Pola generasi pertama adalah generasi rintisan. Budaya generasi rintisan biasanya penuh dengan budaya kekeluargaan karena sang generasi pertama memulai bisnis dari sedikit orang dan kemudian membesar perlahan. Pola-pola manajemen yang “tegas” pun terkadang sulit dilakukan, karena di tahap generasi pertama, pola kedekatan membuat mereka tidak bisa berlaku tegas.

Hadirnya generasi kedua biasanya membawa semangat perbaikan. Dari yang semula berbasis figur, sang generasi kedua biasanya ingin membangun roda organisasi berbasis sistem. Dan generasi kedua biasanya berfokus pada efektifitas organisasi, maka wajar jika generasi kedua biasanya melakukan perombakan SDM.

Di banyak perusahaan keluarga, kehadiran generasi kedua biasanya berujung pada bentrokan budaya. Entah generasi keduanya yang pundung keluar dari organisasi, atau SDM lama yang kemudian merontokkan diri.

Namun tidak sedikit juga organisasi yang berhasil melewati transformasi ini dengan baik. Disinilah tantangan seorang generasi kedua. Mereka bukan hanya dituntut untuk memiliki skill bisnis, namun mereka juga dituntut untuk memiliki skill kepemimpinan yang mumpuni.

3. Tuntutan akan pertumbuhan yang lebih cepat dan pesat.

Ketika generasi kedua datang, tak sedikit generasi pertama yang kemudian menitipkan pesan motivasi ,

“Yuk, sekarang saat kamu memimpin, sekolah udah jauh-jauh ke luar negeri, modal lengkap, jaringan distribusi sudah terbentuk, coba papa pengen tau, sehebat apa kamu bisa berbuat, kalo gak tumbuh juga, malu sama papa yang terbatas ini…”

Sekilas, pesan sang generasi pertama memang OK. Namun disisi lain, tak sedikit generasi kedua yang kemudian stress tak tertahankan. Mereka bekerja dengan tekanan harapan yang berlebihan. Dan jujur, apa yang mereka rasakan sungguh sangat berat.

Semua orang melihat dengan jelas. Semua orang mengawasi. Semua orang menaruh harap. Dan generasi kedua bukanlah memimpin bisnis UKM dengan 3 atau 4 tenaga kerja. Di pundak mereka, terdapat harapan ribuan karyawan yang sudah hadir membangun bisnis orangtuanya.

*****

Tulisan ini punya tujuan…

Kepada para perintis bisnis, penting bagi Anda untuk berdoa tentang generasi berikutnya. Dan doa itu alangkah baiknya dimulai dari sekarang. Jika saat ini Anda masih single, penting menilih pasangan hidup yang sekiranya akan menjadi tim abadi bisnis Anda. Dan darisanalah hadir generasi berikutnya.

Kepada para komentator, mulailah meraba perasaan generasi kedua. Bahwa menjalankan bisnis warisan bukanlah perkara yang gampang. Walau Saya bukan pemilik KeKe, dan hadir sebagai CEO, namun sangat terasa sekali beban sebagai generasi kedua.

Kepada para generasi pertama, mulailah Anda belajar bagaimana melakukan transformasi yang benar. Belajarlah melakukan regenerasi sedari Anda masih sehat dan masih hidup.

Kepada generasi kedua, teruslah pupuk kesabaranmu, dan teruslah pupuk niat baik didalam dirimu. Saya yakin, jika dirimu memutuskan membangun bisnis orang tua, pastilah besar jiwa pengabdianmu. Salam 2nd Generation!

Rendy Saputra
CEO KeKe Busana

*****

Dapatkan konten eksklusif dari Zid Club dengan mendaftarkan diri via SMS ke 081288407094, ketik nama – email – no HP (WA/telegram) atau klik link berikut http://bit.ly/daftarzidclub

Rendy Saputra
Menjadi Direktur KeKe Busana, tidak menghalangi Rendy Saputra untuk menjadi pembicara publik di bidang manajemen, industri dan pengembangan diri. Kang Rendy juga menjadi host di acara TV “Mentoring Bareng Kang Rendy” di YMTV. Anda bisa terhubung dengan Kang Rendy lewat twitter dan email berikut.
KEKE, KEUKEUH DAN IKATAN EMOSI
HARGA, KERJA DAN GARIS WAKTU

Tagged on:                                             

Comments